GERBANGINFORMASI.COM, TEBO - Membangun kembali identitas diri dan bangsa melalui warisan leluhur itu tidak mudah karena sudah pasti menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan. Namun demikian mari kita coba menelisik kembali bagaimana dinamika kerangka berfikirnya.
Menurut pakar akademisi bidang teknik kimia dan lingkungan Bagus Putra Muljadi, manusia saat ini sering sombong dan merasa paling rasional, tapi faktanya manusia tidak digerakkan oleh jurnal ilmiah.
Jika ditarik ke belakang, anak-anak dulu tidak membaca paper penelitian mereka hanya membaca cerita. Dari cerita tersebut lahirlah narasi yang memiliki kekuatan epistemis yang jauh lebih dalam dibanding dengan deretan angka.
Kita ambil sebuah contoh cerita tentang Nyai Roro Kidul. Menurut Bagus Muljadi, bahwa fungsi sosok dalam cerita ini bukanlah untuk dipercaya sebagai entitas fisik objektif melainkan sebagai narasi untuk mitigasi bencana atau serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengurangi resiko, dampak negatif atau kerusakan akibat suatu peristiwa.
Jauh sebelum alat seistemik modern ada, orang dulu sudah tahu kapan gunung akan meletus melalui cerita aliansi penguasa dengan gunung merapi. Hal ini menunjukkan bahwa cerita adalah bagian teknologi yang oleh sebagian orang dianggap kuno, padahal mereka memiliki efikasi yang lebih tinggi dalam menjaga alam, dan ketika pusat mencoba mengatur lewat omnibus law tanpa memahami filosofi lokal l, ekosistem justru rusak.
Kita telah kehilangan identitas diri dan bangsa karena terlalu malu mengakui warisan leluhur sendiri yang dianggap kuno dan bahkan dianggap menyesatkan.
Kenapa kita masih terjebak dengan istilah dukun, peladangan, juru kunci atau istilah kearifan lokal lainnya tapi gagal paham terhadap sains? Apakah ini refleksi kegagalan pendidikan? dimana para akademisi kita sering gagal dalam menerjemahkan spiritualitas ke dalam ruang rasional berfikir. Padahal, angka nol yang kita gunakan dalam kalkulus lahir dari spiritualitas India tentang kekosongan.
Tanpa narasi yang kuat pengetahuan kita hanyalah kumpulan data tanpa jiwa, dan sudah seharusnyalah kita mulai menata ulang identitas lokal menjadi sebuah narasi global yang elegan yang dapat digabungkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan melalui rangkaian penelitian yang lebih dalam, yang pada akhirnya identitas tersebut menjadi simbol kebanggaan bagi bangsa ini karena memiliki peradaban yang tinggi yang mampu berintegrasi dengan ilmu pengetahuan sains. (*)
Ditulis oleh : Joni Miswanto, S.Psi

Social Header